Senin, 25 Juni 2012

SUPERVISI


BAB I
Pendahuluan
Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di negara kita indonesia sejak zaman penjajahan belanda hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang – maka kewajiban dan tanggung jawab para pemimpin pendidikan umumnya dan kepala sekolah khususnya mengalami perkembangan dan perubahan pula. Adapun perubahan-perubahan tersebut dapat di bagi menjadi tiga aspek:
a)      Perubahan dalam tujuan
b)      Perubahan dalam scope(luasnya tanggung jawab/kewajiban),
c)      Perubahan dalam sifatnya.
Ketiga aspek itu sangat berhubungan erat dan sukar untuk dipisahkan satu sam lain. Adanya perubahan dalam tujuan pendidikan, mengubah pula scope atau luasnya tanggungjawab yang harus dipikul  dan dilaksanakan oleh para pemimpin pendidikan. Hal ini mengubah pula bagaimana sifat-sifat kepemimpinan yang harus dijalankan sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pada zaman penjajahan belanda di indonesia, organisasi pendidikan bersifat desentralisasi. Segala sesuatu –bangunan sekolah, kurikulum, jumlah murid, buku pembelajaran, cara mengajar sebagainya. Telah ditetapkan dan diselenggarakan oleh pemerintah secara sentral. Kewajiban kepala sekolah dan guru-guru tidak lain hanyalah menjalankan apa yang telah ditetapkan dan dintsruksikan dari atasanya.
 Penyelenggaraan pendidikan lebih disentralisasikan kepada daerah-daerah: masyarakat diikutsertakan dan turut serta dalam usaha-usaha pendidikan ,dan lain-lain. Tanggung jawab kepala sekolah dianggap baik dan cakap kalau sekolahnya dapat berjalan dengan teratur  tanpa menghiraukan kepentingan dan hubungan dengan msyarakat sekitarnya, maka penilaian sekarang lebih dari itu.
Tugas kewajiban kepala sekolah , di samping mengatur jalannya sekolah, juga harus dapat bekerja sama dan berhubungan erat dengan masyarakat. ia berkewajiban membangkitkan semangat  staf guru-guru dan pegawai sekolah untuk bekerja lebih baik; membangun dan memelihara kekeluargaan, kekompakan dan perasaan antara guru-guru, pegawai  dan murid – murid nya ,mengembangkan kurikulum sekolah, mengetahui rencana sekolah dan tahu bagaimana menjalankan ;memperhatikan dan mengusahaakan kesejahteraan guru-guru dan pegawai –pegawai.
Semua ini merupakan tugas kepala sekolah yang pada zaman penjajahan belanda tidak begitu penting dan tidak perlu adanya. Tugas-tugas kepala sekolah seperti itu adalah bagian dari fungsi-fungsi supervisi (pengawasan ) yang menjadi kewajiban sebagai pempin pendidikan .
 Supervisi pendidikan adalah bantuan yang diberikan kepada personal pendidikan untuk mengembangkan proses pendidikan yang lebih baik dan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Menyampaikan gagasan, prosedur dan bahan material untuk menilai dan mengembangkan kurikulum.
2.      Mengembangkan pedoman, petunjuk, cara dan bahan penunjag lainnya untuk melaksanakn kurikulum.
3.      Merencanakan perbaikan metode proses belajar –mengajar secara formal melalui penataran, lokakarya, seminar, sanggar kerja, diskusi ,dan kunjungan dinas.











BAB II
Pembahasan

A.    PENGERTIAN SUPERVISI

Kata supervisi berasal dari kata supervision (bahasa inggris) secara morfologis kata supervisi terdiri dari kata dasar super berarti atas, visi berarti lihat. Jadi supervisi secara morfologis berarti melihat dari atas. Menurut  personal yang melakukan supervisi (supervisor) mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada orang yang disupervisi (supervised). Maksudnya supervisor mempunyai jabatan, pengetahuan, dan keterampilan yang melebihi daripada orang yang disupervisi.[1]
Terdapat beberapa istilah yang mempunyai kesamaan pengetian dasarnya yaitu kontrol, pengawasan, pembinaan, inspeksi. Bidang pendidikan mengunakan inspeksi pada masa kolonial. tetapi sekarang  mengunakan supervisi atau pembinaan, yang lebih demokratis. Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang direncanakn dalam perbaikan situasi pengajaran dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sumber personal dan material dalam pencapaian tujuan pendidikan secara lebih efektif dan efisien.
Pembinaan bermaksud memberikan bimbingan dan latihan bagi guru dan pegawai untuk meningkatkan kemampuan dalam tugasnya. Arah supervisi pendidikan adalah perbaikan pengajaran  dengan kondisi pengajaran yang lebih baik menjamin tercapainya tujuan pendidikan lebih efektif dan efisien.
B.     EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN
Evaluasi merupakan terjemahan dari kata bahasa inggris evaluation . menurut pengertian umum “program” dapat diartikan sebagai “rencana”. Sebuah program bukanlah hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakn suatu kebijakan.
 Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi , yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program itu sangat bermanfaat terutama bagi pengambilan keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakn. Wujud dari hasil evaluasi adalah rekomendasi dari evaluator untuk pengambil keputusan(decision maker).
Ada dua macam tujuan evaluasi [2], yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum di arahkan pada program secara menyeluruh,  sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing  komponen. Istilah “kriteria” dalam penilaian sering juga dikenal dengan kata “tolak ukur”atau “standar”.
 Evaluasi program perlu memiliki kriteria. Kriteria atau tolak ukur perlu dibuat oleh evaluator terdiri dari beberapa orang yang memerlukan kesepakatan di dalam menilai dan agar tidak terpengaruh oleh pendapat pribadi , karena sudah dituntun oleh sebuah standar.
Dalam organisasi pendidikan, evaluasi program dapat diartikan dengan kegiatan supervisi. Secara singkat , supervisi di artikan sebagai upaya mengadakan peninjauan untuk memberikan pembinaan maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula.
Kesalahan yang terjadi di masyarakat beberapa waktu yang lalu, yaitu supervisi hanya menekankan aspek ketatausahaan saja. jika konsepnya seperti itu maka ada perbedaan antara evaluasi program dengan supervisi. Jika supervisi di lembaga pendidikan dilakukan dengan objek buku-buku dan pekerjaan clerical work maka evaluasi program dilakukan dengan objek lembaga pendidikan secara menyeluruh. Kebijakan supervisi yang berlansung saat ini dapat dikatakan sama dengan evaluasi program, tetapi sasaranya ditekankan pada kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain ,prestasi belajar menjadi titik pusat perhatian.
Berdasarkan pengertian tadi ,supervisi sekolah yang diartikan sebagai evaluasi progaram dapat disamakan dengan validasi lembaga dan  Akreditasi. Evaluasi program merupakan langkah awal dari proses akredasi dan validasi lembaga.
 Oleh karena itu tujuan utamanya memperhatikan prestasi belajar bidang studi atau mata pembelajaran maka supervisor (yang di dalam praktik disebut pengawasan), disyaratkan memiliki latar belakang bidang studi tertentu dan harus memiliki pengalaman menjadi guru.
 Dilihat dari ruang lingkupnya ,supervisi dibedakan menjadi tiga .supervisi kegiatan pembelajaran, supervisi kelas, dan supervisi sekolah. Evaluasi terhadap guru yang disupervisi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara kemampuan, keterampilan, kepuasan, dan disiplin kerja guru sebelum dan sesudah mendapatkan supervisi. Perilaku belajar siswa juga dipengaruhi oleh perilaku mengajar guru, sedangkan perilaku mengajar guru dipengaruhi perilaku supervisor. Disimpulkan supervisi pengajaran memberikan kontribusi bagi kemampuan mengajar guru dan hasil belajar siswa.

C.    FUNGSI DAN PERAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Fungsi supervisi pendidikan adalah sebagai layanan atau bantuan kepada guru untuk mengembangkan situasi belajar mengajar. Konsep supervisi sebenarnya diarahkan kepada pembinaan. Artinya kepala sekolah, guru dan para personel lainnya di sekolah diberi fasilitas untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
Menurut Anwar dan Segala Supervisor mempunyai fungsi-fungsi utama, antara lain:
a.        Menetapkan masalah yang betul-betul mendesak untuk ditanggulangi.
b.       Menyelenggarakan inspeksi, yaitu sebelum memberikan pelayanan kepada guru, supervisor lebih dulu perlu mengadakan inspeksi sebagai usaha mensurvai seluruh sistem yang ada.
c.       Memberikan solusi terhadap hasil inspeksi yang telah di survai.
d.       Penilaian.
e.        Latihan  
     
 Dilihat dari fungsi yang telah ada, tampak jelas peranan supervisi pendidikan. Peranan supervisi dapat dikemukakan oleh berbagai pendapat para ahli yang menyimpulkan tentang tugas dan fungsi supervisor[3]:
a.       Koordinator, sebagai koordinator supervisor dapat mengkoordinasi program-program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru. Contoh kongkret mengkoordinasikan tugas mengajar satu mata pelajaran yang dibina oleh berbagai guru.
b.      Konsultan, sebagai konsultan supervisor dapat memberikan bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.
c.        Pemimpin kelompok, supervisor dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru secara bersama-sama.
d.       Evaluator, supervisor dapat membantu guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan. Ia juga belajar menatap dirinya sendiri. Ia dibantu dalam merefleksi dirinya, yaitu konsep dirinya (self concept) ide/cita-cita dirinya (self ide), realitas dirinya (self reality) (P. Wiggens, 1965). Misalnya diakhir semester ia dapat mengadakan evaluasi diri sendiri dengan memperoleh umpan balik dari setiap peserta didik yang dapat dipakai sebagai bahan untuk memperbaiki dan meningkatkan dirinya.
Yang harus diubah ialah unjuk kerja para pembna pendidikan (supervisor) yang memakai pola lama, yaitu mencari-cari kesalahan dan kebiasaan memberi pengarahan. Dalam iklim demokrasi, harus ada reformasi unjuk kerja para pembina pendidikan seperti yang diungkapkan Kimball Wiles (1955). Ia menegaskan peranan seorang supervisor ialah membantu, memberi support dan mengikutsertakan, bukan mengarahkan terus-menerus. Kalau terus menerus mengarahkan, selain tidak demokratis, juga tidak memberikan kesempatan untuk guru-guru belajar berdiri sendiri (otonom) dalam arti profesional. Guru tidakdiberi kesempatan untuk berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri. Padahal ciri guru yang profesional ialah guru-guru yang memiliki otonomi dalam arti bebas mengembangkan diri sendiri atas kesadaran diri sendiri.



Lebih jelasnya peran supervisi pendidikan dijabarkan sebagai berikut sebagaimana yang dikutip dari Suhertian.

A.    Mengkoordinasikan semua usaha sekolah.
Oleh karena perubahan yang terjadi, maka kegiatan sekolah juga makin bertambah. Usaha-usaha sekolah makin menyebar.perlu adakoordinasi yang baik terhadap semua usaha sekolah. Yang dimaksud dengan usaha- usaha sekolah misalnya:
a.       Usaha tiap guru
Ada sejumlah guru yang mengajar dibidang studi yang sama dan tiap guru ingin mengemukakan idenya dan menguraikan materi pelajaran menurut pandangannya ke arah peningkatan.
b.Usaha-usaha sekolah
Dalam menentukan kebijakan, merumuskan tujuan-tujuan atas setiap kegiatan sekolah termasuk program-program sepanjang tahunajaran perlu ada koordinasi yang baik.
c.       Usaha-usaha bagi pertumbuhan jabatan
Tiap guru ingin bertambah dalam jabatanya. Melalui membacabuku-bukudan gagasan-gagasan baru guru-guru ingin belajarterus-menerus. Melalui inservice training, extension course, workshop, seminar guru-guru selalu berusaha meningkatkan diri sekaligus merupakan hiburan intelektual.

B.     Memperlengkapi  kepemimpinan  sekolah.
Yakni melatih dan memperlengkapi guru agar mereka memiliki keterampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah. Dalam masyarakat demokratis  kepemimpinan yan demokratis perlu dikembangkan . kepemimpinan  itu sesuatu keterampilan yang  harus dipelajari. Dan itu harus   melalui latihan terus-menerus. Dengan melatih guru-guru agar mereka memiliki  keterampilan dalam kepemimpinan sekolah.

C.    Memperluas pengalaman guru-guru.
Yakni memberi pengalaman – pengalaman baru kepada  anggota staff  sekolah, sehingga makin hari makin bertambah pengalaman dalam hal mengajarnya. Akar dari pengalaman terletak pada sifat dasar manusia. Manusia selalu ingin mencapai  kemajuan yang  semaksimal mungkin. Seorang yang akan jadi pemimpin, bila ia mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan, melalui pengalaman baru ia dapat belajar untuk memperkaya dirinya dengan pengalaman belajar baru.
 
D.    Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif.
Yakni kemampuan untuk mendorong  segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang dipimpinya dan bagi dirinya sendiri.  Usaha-usaha kreatif bersumber pada pandangan tentang manusia.  Semua orang percaya pada manusia diciptakan dengan memiliki potensi  untuk berkembang  dan berkarya. Supervisi bertugas untuk menciptakan suasana yang memungkinkan  guru-guru dapat berusaha meningkatkan potensi-potensi  kreativitas dalam dirinya. Kemampuan untuk menstimulasi guru-guru agar mereka tidak hanya berdasarkan instruksi atasan , tapi mereka adalah pelaku aktif dalam proses belajar mengajar.

E.     Memberikan fasilitas dan penilaian yang kontinyu.
Yakni penilaian terhadap setiap usaha dan program sekolah misalnya, memiliki bahan- bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustaka, cara mengajar, kemajuan muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu. Setiap situasi selaluberubah. Perubahan membutuhkan kemungkinan baru dan untuk mencapai kemajuan lebih lanjut, perlu ada penilaian yang efektif. Penilaian terhadap setiap usaha misalnya,memiliki bahan-bahan pengajaran, perpustakaan ,cara  mengajar , kemajuan murid-muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu.

F.     Menganalisis situasi belajar.
Yakni belajar merupakan situasi dimana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikan.
Supervisi diberikan dengan tujuan tertentu. Tujuannya ialah untuk memperbaiki situasi  belajar mengajar. Agar usaha memperbaiki situasi belajar dapat tercapai, maka perlu dianalisis hasil dan prose pembelajaran. Dalam situasi belajar mengajar peranan guru –peserta didk memegang peranan penting.


G.    Memberi pengetahuan dan keterampilan pada setiap staff.
Yakni supervisi berfungsi memberi stimulus dan membantu guru agar mereka memperkembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam belajar. Ini hanya mungkin bila selalu ada latihan dan bantuan kepada setiap setiap guru, setiap orang baik ia sudah dewasa atau ia sebagai guru, tetapi pada saat-saat tertentu ia menentukan bantuan dan dorongan orang lain untukmemperoleh pengetahuan baru. Menambah pengetahuan baru dan latihan-latihan untuk mendapatkan keterampilan ini adalah selalu fungsi supervisi pendidikan.

H.    Menginsterasikan tujuan dan pembentukan kemampuan.
seseorang terletak dan berakar dalam aspek psychologis dari sifat islam manusia. Untuk mencapai suatu tujuan kita harus mengukur/menyadari dahulu kemampuan yang ada pada kita, apakah dengan kemampuan yang ada, tujuan yang dikejar dapat dicapai.
Fungsi supervisi ialah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri individu.
















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
 Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang direncanakn dalam perbaikan situasi pengajaran dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sumber personal dan material dalam pencapaian tujuan pendidikan secara lebih efektif dan efisien.
 Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi , yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program itu sangat bermanfaat terutama bagi pengambilan keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakn. Wujud dari hasil evaluasi adalah rekomendasi dari evaluator untuk pengambil keputusan(decision maker).
Peran supervisi dalam evalusi program pendidikan:mengkoordinasi semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperluas pengalaman, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian kontinyu, memberi pengetahuan dan keterampilan (skill) pada setiap anggota staf, mengintegrasikan tujuan dan pembentukan kemampuan.













DAFTAR KEPUSTAKAAN
Daryanto, 2001,  Administrasi pendidikan , rineka cipta, Jakarta.

Arikunto,  Suharsimi, Evaluasi Program pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.

Sahertian, Piet A. 2001,  konsep dasar& teknik supervisi pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia,  Asdi Mahasatya: Jakarta

Sahertian,  Piet. A. 1981, prinsip dan teknik supervisi pendidikan, surabaya: usaha nasional,







[1] H.M. Daryanto, Administrasi pendidikan, (Jakarta:rineka cipta, 2001) hal. 202
[2] Suharsimi,  Arikunto,Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara.2001) hal. 23
                                                                      
[3] Piet A. sahertian, konsep dasar& teknik supervisi pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, (jakarta: Asdi Mahasatya, 2000) hal.25-26

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar