Senin, 25 Juni 2012

LANGKAH-LANGKAH SUPERVISI


LANGKAH-LANGKAH SUPERVISI

A.Pendahuluan
Walaupun kegiatan supervisi dititik beratkan pada perbaikan mutu kegiatan belajar-mengajar di kelas, namun kesuksesan pekerjaannya secara tidak langsung sangat berhubungan dengan lingkungan sekolah. Menurut Hoy sebelum supervisor melakukan tugasnya terlebih dahulu mereka harus dilihat kondisi konteks atau lingkungannya. Menciptakan iklim lingkungan ini menurut Hoy melalui dua tahap. Tahap pertama supervisor harus secara aktif melibatkan diri bersama kepala sekolah di dalam mengembangkan iklim sekolah yang kondusif. Tahap kedua supervisor harus melibatkan diri dengan guru-guru di dalam menyiapkan dirinya untuk disupervisi.
B.Pengertian Supervisi
Sebagai salah satu dari fungsi manajemen, pengertian supervisi[1] telah berkembang secara khusus. Secara umum yang dimaksud dengan supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Azwar, 1996).
Muninjaya (1999) menyatakan bahwa supervisi adalah salah satu bagian proses atau kegiatan dari fungsi pengawasan dan pengendalian (controlling). Swanburg (1990) melihat dimensi supervisi sebagai suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian suatu tugas ataupun sekumpulan kegiatan pengambilan keputusan yang berkaitan erat dengan perencanaan dan pengorganisasian kegiatan dan informasi dari kepemimpinan dan pengevaluasian setiap kinerja karyawan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer melalui aktivitas bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi pada stafnya dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari (Arwani, 2006).



C.Manfaat dan Tujuan Supervisi
Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut (Suarli & Bachtiar, 2009) :
1) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan dan bawahan.
2) Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan efesiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya (tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.
Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama artinya dengan telah tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat dicapai dengan memuaskan (Suarli & Bachtiar, 2008).
D.Langkah-langkah Supervisi
            Dalam supervisi  sekarang ini, pengamatan oleh pengawas dan kepala sekolah bukan satu-satunya cara untuk mengetahui kualitas pembelajaran, mestinya pengawas selaku penanggung jawab supervisi perlu terus-menerus berpikir untuk mencari variasi langkah kegiatan dengan maksud memperoleh data yang lebih baik dan model pembinaan yang lebih baik dan model pembinaan yang lebih efektif. Langkah-langkah yang sifatnya rutin akan menghasilkan data yang rutin pula dan bentuk pembinaanya pun menjadi rutin.
            Dalam supervisi model baru yang dikaitkan dengan supervisi klinis ini disarankan langkah-langkah alternatif berikut:
a.Pengawas bersama kepala sekolah sewilayah pembinaanya berdiskusi menyusun rencana kerja untuk kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun kemudian di penggal-penggal menjadi rencana caturwulan dan bulan. Dalam rencana tersebut tertuang:
1) Aspek yang menjadi titik pusat perhatian dalam program supervisi untuk tahun tersebut. Karena supervisi pengamatan kelas meskipun cara tersebut masih digunakan sebagai salah satu metode, dalam menyusun rencana tersebut perlu disebutkan dengan jelas apa yang menjadi titik pusat perhatian, paling tepat untuk saat tersebut.[2]
2) Penjadwalan pelaksanaan yang mencakup lama kurun waktu dan penggalan untuk setiap langkah kegiatan. Dalam langkah-langkah tersebut disebutkan isi, pihak, dan sarana yang digunakan.
b.Perencanaan yang rinci dan disusun bersama antara pengawas dan kepala sekolah, ini dimaksudkan untuk menciptakan koordinasi antara keduanya sehingga pelaksanaan supervisi tidak simpang siur.
c.Pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang di perlukan. Jika pengawas dan kepala sekolah bermaksud mengaktifkan bagian lain dari hal-hal yang biasa disupervisi, tentu saja di buku pedoman supervisi belum tersedia instrumen untuk memantaunya. Oleh sebab itu kepala sekolah perlu menyusun sendiri instrumen pemantauan yang diperlukan.
d.Pengawas dan kepala sekolah menyelenggarakan rapat pleno guru untuk menjelaskan langkah program yang disusun bersama pengawas. Dalam rapat tersebut dibagikan blangko pada semua guru, berisi tawaran kepada guru yang ingin menggunakan kesempatan untuk mengemukakan masalah dan memerlukan pembinaan. Untuk ini guru diberi waktu yang cukup agar dapat berpikir dengan sungguh-sungguh masalah apa saja yang perlu mendapatkan pembinaan secara intensif, baik apa yang dilakukan sendiri, dilakukan bersama pimpinan sekolah, atau pengawas dan orang tua siswa.
e.Kepala sekolah menyampaikan usulan guru tersebut kepada pengawas sehingga di antara kedua  petugas supervisi tersebut dapat mengadakan pembagian tugas.
f.Pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana operasional untuk melaksanakan supervisi.[3]
g.Pengawas dan kepala sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota.[4]
E.Contoh Langkah-langkah Supervisi
Supervisi adalah suatu bentuk tindakan terhadap guru yang sedang dalam proses interaksi dengan murid. Dengan demikian supervisi adalah suatu bentuk “intervensi”. Kegiatan supervisi masuk ke dalam kegiatan belajar-mengajar.[5]
Agar intervensinya dapat berjalan dengan efektif maka kegiatan supervisi tersebut harus dilakukan melalui tahap-tahap diagnosis seperti tahap-tahap yang dilalui di dalam proses pemecahan masalah pada umumnya. Tahap-tahap tersebut adalah:
1.             Identifikasi masalah yaitu mengidentifikasikan celah antara keadaan yang sekarang ada dengan keadaan yang diharapkan.
2.             Diagnosis penyebab (diagnose causes) yaitu penelitian mengenai kemungkinan sebab-sebab timbulnya masalah dengan cara menguji faktor-faktor penghambat (kendali) maupun faktor-faktor penunjang.
3.             Mengembangkan rencana kegiatan yaitu mengembangkan strategi untuk bertindak dengan secara rinci menelaah alternatif yang ada, mengantisipasi akibat-akibat yang mungkin timbul, mempertimbangkan untuk kemudian memilih salah-satu untuk dilaksanakan.
4.             Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dengan menerjemahkan setiap langkah perencanaan dengan prosedur yang khusus.
5.             Mengevaluasi rencana kegiatan yaitu melihat kembali keterlaksanaan dan nilai-nilai yang perlu di pertimbangkan di dalam pelaksanaan nanti.

Tujuan kegiatan supervise adalah menciptakan atau menjaga kondisi atau iklim sekolah supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk terjadinya pengembangan pengajaran. Lalu bagaimanakah iklim sekolah yang kondusif itu? Kegiatan supervisi  dapat berlangsung secara efektif apabila suasana lingkungan sekolah dalam keadaan tenang, tidak mencekam. Suasana yang tidak mencekam bagi pengembangan pembelajaran adalah suasana di mana setiap personal yang terlibat di dalam kegiatan pengajaran (guru, kepala sekolah, murid dan pegawai tata usaha) hatinya tentram, pasrah, dapat saling berhubungan satu sama lain dalam suasana kekeluargaan dengan bebas tanpa ada rasa takut. Masih tambah lagi satu syarat, yaitu bahwa setiap personal yang terlibat dalam pengembangan tersebut berada dalam posisi terpenuhinya kebutuhan pribadinya.
System manajemen di dalam organisasi sosial seperti yang digambarkan tersebut bersifat partisipatif, dan ditandai oleh kepemimpinan yang mendukung, motivasi yang tinggi, hubungan antar pribadi sangat dekat, kerja sama yang baik,ada kesetiaan kelompok, tanggung jawab atas tugas masing-masing, saling percaya, masing-masing percaya pada diri sendiri dan mengarahkan kepada  pencapaian tujuan yang tinggi.
Ditinjau dari segi murid, di sekolah dengan iklim yang kondusif ditekankan pada disiplin yang tinggi pada murid, masing-masing murid diketahui keadaannya (termasuk kelainan-kelainannya). Hubungan antar murid akrab dan merasa bahwa mereka berada di dalam satu keluarga yang sama yakni keluarga sekolah itu. Masing-masing murid merasa tenteram dan puas karena terpenuhi segala kebutuhannya.
Ciri terakhir dari iklim sekolah yang baik yang tidak dilihat dan tinjauan personil adalah bahwa sekolah tersebut secara keseluruhan mengharapkan tercapainya tujuan akhir dari kegiatan organisasi sosial tersebut, yaitu peningkatan prestasi belajar siswa.
Dari sederetan ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari pengembangan iklim sekolah adalah terciptanya iklim sekolah dalam system yang partisipatif, berorientasi pada pengontrolan terhadap murid secara manusiawi dan ditekankan pada pencapaian tujuan akademik yang tinggi. Apa yang disebutkan itu bukannya tujuan akhir sekolah, tetapi sesuatu yang mendukung terjadinya program supervisi yang efektif.
Siklus diagnostik yang telah digambarkan  di atas bukan hanya untuk memilih alternative pendekatan supervisi atau pemecahan masalah saja, tetapi juga dapat diterapkan di dalam program menciptakan iklim sekolah seperti yang sedang dibicarakan. Apabila iklim sekolah belum berada pada kondisi yang diharapkan maka dipandang bahwa iklim sekolah berada dalam keadaan yang bermasalah dan perlu untuk segera dipecahkan.
Pada bagian ini akan disampaikan contoh implementasi penggunaan siklus pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan iklim sekolah agar kondusif bagi kegiatan supervisi yang efektif.

Identifikasi Masalah
Pelaksanan praktikum di sebuah sekolah kejurusan teknik tampak tidak lancar. Alat dan bahan yang ada akan digunakan untuk praktek, tersedia kurang. Mencukupi kebutuhan untuk praktek murid-murid. Pengelolaan tidak selalu berada di tempat, sehingga setiap kali instruktur sudah siap dengan persiapan praktikum atau praktek, pintu laboratorium belum dibuka. Kalaupun instruktur menemukan pintu sudah terbuka, alat-alat dan bahan praktek belumberada di tempat yang dekat dengan tempat praktikum. Dengan demikian ketika waktu yang ditentukan untuk praktikum pada jam itu sudah habis, murid-murid tidak segera meninggalkan tempat karena tugas belum selesai. Instruktur yang mendapat giliran memimpin praktikum untuk jam berikutnya sudah dating, dan hatinya kecewa  karena melihat bahwa rombongan yang sesuai praktikum belum meninggalkan tempat. Terjadi sedikit keributan di pintu masuk laboratorium. Ada “ganjalan” di hati masing-masing instruktur, ada rasa tidak puas di hati masing-masing murid.
Di lain kelas, seseorang guru sudah berdiri di depan sebuah kelas. Ia sudah masuk  ke kelas sebelum itu tetapi ditemukan bahwa kelasnya masih kosong. Murid-murid yang seharusnya sudah siap untuk diajar pelajaran teori ternyata belum berada di tempat karena masih menyelesaikan praktikum di laboratorium. Mereka terpaksa mundur waktunya karena sudah diceritakan di depan, mulainya praktikum terlambat gara-gara pintu masuk belum dibuka. Maka di kelas teori tersebut pun terjadi kekacauan. Pelajaran teori tidak berlangsung dengan baik karena pada waktu murid-murid dari laboratorium dating, guru sudah kecewa. Apa yang sudah disiapkan terpaksa harus diubah karena waktu yang seharusnya disediakan sudah terkurangi beberapa menit.   

Diagnosis Penyebab
Apa yang dikemukakan di atas adalah suatu situasi yang mengandung masalah. Keadaannya begitu kompleks dan ruwet, kalau situasi kacau tersebut berlangsung berkali-kali, maka tidak mustahil moral kerja guru dan semangat belajar murid akan menurun. Kondisi pengajaran berada dalam keadaan yang tidak kondusif. Hati para guru, instruktur dan murid-murid sudah terluka. Antara guru dengan instruktur menjadi retak. Ada rasa “jengkel” terbesit di dalam jiwanya. Hubungan antar instruktur sendiri dengan penjaga ruangan juga tidak baik. Instruktur dikecewakan oleh ketidaksiapan laboratorium pada waktu instruktur sudah siap melaksanakan tugas membimbing praktikum. Mudah diduga bahwa dalam situasi mencekam seperti itu pelajaran tidak berlangsung dengan baik.
Kekacauan terdapat di kelas teori dan di laboratorium. Dalam situasi seperti ini tugas supervisor di sekolah itu menjadi sangat berat. Pihak-pihak yang harus digarap adalah guru, instruktur, dan murid-murid. Mereka harus dikembalikan ke dalam situasi bebas dari kejengkelan antara satu sama lain. Moral kerja masing-masing personal harus dinakkan kembali. Semangat belajar murid-murid harus dibangkitkan agar siap untuk berpartisipasi di dalam proses pengajaran.
Di dalam melakukan diagnosis penyebab ini supervisor  melaksanakan tiga hal yaitu: (1) mengumpulkan data agar proses diagnosis penyebab dapat dilakukan dengan seksama, karena data yang tersedia cukup lengkap, (2) menganalisis data yang ada sehingga diketahui dengan pasti kondisi yang ada untuk dibandingkan dengan kondisi yang diinginkan yang kondusif untuk pengajaran, dan (3) menemukan celah antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharaokan, dan celah inilah yang harus dihilangkan dengan pendekatan supervise yang tepat. Di dalam penggarapannya supervisor membuat daftar untuk membandingkan dua kondisi yang telah disebutkan.
Analisis Penyebab dan Alternatif Pemecahan Masalah
1.         Instruktur datang di dengan laboratorium kecewa, menemukan ruangan masih tertutup, alat-alat dan bahan belum tersedia. Pintu masih tertutup karena penjaga ruangan tidak datang pada waktunya. Pemecahannya adalah bahwa penjaga ruangan diharuskan datang pada waktu yang sudah ditentukan. Mengapa penjaga ruangan tersebut sedang mengalami “broken home”.[6]
2.         Guru teori kecewa ketika datang ke kelas karena menjumpai kelas masih kosong. Murid-murid belum datang karena masih berada di laboratorium. Praktikum di laboratorium terpaksa ditunda penyelesaiannya karena jam mulainya juga mundur. Pada waktu supervisor membaca pernyataan masalah ini dan akan mennganalisisnya dapat mengambil kesimpulan bahwa timbulnya masalah di kelas ini merupakan akibat dari masalah yang pertama, yaitu yang terjadi di laboratorium. Kalau masalah yang terjadi di laboratorium sudah terpecahkan, masalah yang terjadi di kelas juga akan ikut terpecahkan sesudah beberrapa waktu kemudian.
3.        Hubungan antara instruktur dengan guru teori kurang baik. Terdapat perasaan jengkel pada diri kedua guru itu, karena kepentingannya terganggu. Program pengajaran yang sudah direncanakan tidak dapat dilaksanakan karena waktunya tergeser. Instruktur merasa jengkel kepada guru teori barangkali karena guru tersebut pernah berbicara dengan nada yang tidak enak kepada instruktur. Setelah kejadian ini dianalisis, ditemukan bahwa  penyebab timbulnya kejadian adalah karena instruktur menunda waktu praktikum. Andaikata waktu praktikum dikurangi dan anak-anak dapat kembali ke kelasnya pada waktu yang telah ditetapkan, maka guru teori tidak akan merasa kecewa. Hubungan antara instruktur dengan guru tidak akan menjadi jelek. Jadi pemecahan permasalahannya adalah instruktur memulai praktikum pada waktunya dan berhenti pada waktunya pula.
4.        Moral kerja guru dan instruktur menurun. Hal ini diakibatkan karena dari waktu ke waktu selalu dikecewakan oleh ketidaktersedianya alat-alat dan bahan pada waktu yang telah di tetapkan.disiplin yang tinggi akan dapat terhapus oleh ketidakdisiplinan orang lain. Di satu sisi mereka disiplin, di sisi lain mereka dikecewakan oleh orang lain yang tidak disiplin. Keadaan moral kerja rendah ini akan berangsur-angsur pulih kalau sudah ad bukti bahwa kebutuhannya sudah terpenuhi. Perlu kita ingat bersama bahwa “penyakit” yang berhubungan dengan moral manusia merupakan penyakit yang sukar disembuhkan. Seperti halnya menurunkan moral kerja, batu akan dapat terobati apabila sudah ada obatnya yang tepat dan itupun akan memerlikan waktu yang lama untuk dapat pulih kembali.
5.        Semangat belajar mengendor. Murid-murid kelihatan kurang bergairah dalam belajar. Hal ini merupakan akibat dari kekecewaan yang beruntun karena menyaksikan: laboratorium yang masih terkunci ketika mereka dating di laboratorium tersebut, ditambah dengan belum siapnya alat-alat dan bahan praktikum. Pada waktu mereka memasuki ruangan kelas teori mereka melihat kekecewaan guru teori dan merasakan “tidak tentram” menyaksikan suasana kelas yang tampak tidak relaks dengan guru yang mengajar yang tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun. Keadaan mengendornya semangat belajar ini sebagai akibat dari ketidakdisiplinan orang lain. Apabila sumbernya sudah dapat diberantas, diramalkan bahwa keadaan yang merupakan akibat tersebut juga akan terhapus.
Dari analisis penyebab masalah ini diketahui dan dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang semula Nampak ruwet, kompleks, terdapat lima kasus permasalahan, ternyata sesudah diurai hanya ada satu saja pernyebab timbulnya masalah. Masalah-masalah yang tersebut di dalam perumusan masalah dan yang teridentifikasikan karena Nampak di permukaan justru bukan merupakan masalah yang pokok. Masalah yang pokok bahkan yang tidak tampak dari luar. Masalah pokok ini bersifat terselubung.
Menyusun Perencanaan
Setelah diketahui penyebab dari semua permasalahan yang ada maka kini supervisor sampai pada tahap berikutnya, tahap ketiga, yaitu menyusun perencanaan untuk memecahkan masalah. Di dalam contoh khusus ini terdapat masalah pokoknya yang hanya satu, yaitu: “penjaga ruang tidak dapat dating tepat pada waktunya”.
Apabila dilihat dari permasalahan yang tampak, diketemukannya penyebab adanya penjaga ruang yang tidak dapat datang tepat pada waktunya adalah data untuk langkah ketiga dalam prosedur supervisi. Akan tetapi apabila “penjaga tidak dapat dating tepat pada waktunya” itu dianggap sebagai suatu masalah yang terlepas dari hal-hal lain, maka untuk memecahkannya diperlukan juga langkah-langkah dari awal. Kini pernyataan tersebut berdiri sebagai identifikasi masalah. Langkah berikutnya adalah mengadakan diagnosis sebab-sebab adanya masalah. Dari langkah terlepas dapat diketahui bahwa yang menyebabkan penjaga ruangan tidak dapat datang tepat pada waktunya karena dirumahnya sedang terjadi “broken home”. Jika ini yang menyebabkan keterrlambatan datang, maka masalah ini harus dipecahkan dahulu, baru beruntun pada masalah-masalah yang lain. Kalau supervisor harus menangani masalah keluarga penjaga ruangan, maka kasusnya menjadi meluas dan merantai. Memang betul  bahwa penjaga ruangan juga merupakan tanggungjawab supervisor sekolah untuk disupervisi, tetapi masalah yang pertama muncul menjadi masalah kedua yang segera harus diatasi.[7]
F.Kesimpulan
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Azwar, 1996).
            Langkah-langkah supervisi yaitu: pengawas dan kepala sekolah berdiskusi menyusun rencana kerja untuk jangka waktu tertentu, pengawas dan kepala sekolah menciptakan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan supervisi agar tidak terjadi kesalahpahaman, pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang diperlukan, kepala sekolah mengadakan rapat pleno dengan guru, kepala sekolah menyampaikan usulan dari guru ke pengawas, pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana operasional untuk melaksanakan supervisi, dan pengawas dan kepala sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota


















DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Jakarta: CV. Rajawali, 1990.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: Rineka Cipta,2004.
 Gunawan, Ary, Administrasi Sekolah ( Administrasi Pendidikan Mikro), Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.



[1] Supervisi berasal dari bahasa Inggris “supervision” yang berarti pengawasan/kepengawasan.. Orang yang melaksanakan pekerjaan supervisi di sebut Supervisor. Lihat Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah ( Administrasi Pendidikan Mikro), Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002. Hal.193.
[2] Sebagai contoh misalnya: Pembinaan terhadap guru tentang bagaimana memanfaatkan bahan lokasi perpustakaan sebagai sumber untuk memperkaya materi pembelajaran dan  menggalakkan majalah dinding dan pemanfaatannya untuk memperkaya koleksi perpustakaan.
[3] Dalam pelaksanaan supervisi ini pendekatan yang digunakan adalah supervisi klinis, yaitu: a) guru mengemukakan masalah yang dirasakan kepada pengawas atau kepala sekolah, b) diskusi bersama antara supervisor dengan guru untuk menemukan alternatif pemecahan masalah, c) guru mencoba mengatasi masalah dalam praktik, sedangkan supervisor dengan cermat mengadakan pengamatan, d) sesudah selesai kegiatan mengatasi masalah tersebut, diadakan diskusi lagi untuk membicarakan hasil.
[4] Ada baiknya jika tembusan laporan juga dapat dibaca oleh guru disupervisi agar mereka puas mengetahui bahwa pembinaan terhadap dirinya tersebut juga diketahui oleh kepala dinas yang bersangkutan. Selain itu langkah demikian ini merupakan suatu pertanda adanya keterbukaan antara sekolah dengan guru. Lihat Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: Rineka Cipta,2004. Hal. 98.
[5] Lihat Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Jakarta: CV. Rajawali, 1990. Hal.172.

[6] (Dalam kasus ini terjadi rentetan kejadian. Masalah yang timbul yang berhubungan dengan pengajaran ternyata sebagai akibat dari masalah yang ada pada keluarga ruangan. Masalah yang kedua ditemukan ini justru yang harus dipecahkan dulu, baru dapat terpecahkan masalah pertama yang menyangkut pengajaran).

[7] Untuk mengatasi masalah penjaga ruangan supervisor harus mencoba mendaftar beberapa alternative pemecahan, kemudian dengan menggunakan langkah-langkah dalam prosedur pemecahan masalah, dipilihlah salah satu alternative pemecahan. Kalau sudah terpecahkan masalah penjaga ruangan, untuk kasus ini permasalahan supervisi sudah selesai. Tahap implementasi dan tahap evaluasi, merupakan tahap-tahap untuk pemecahan masalah penjaga ruangan, sekaligus masalah-masalah pengajaran.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar